Kata-Kata Mubazir

Kata-kata Mubazir

Kata-kataku seringkali tak bermakna dalam. Kata-kataku sering bermakna dalam, kata-kata yang penuh kesenangan sementara. Ketika aku tak berkata-kata, aku rupanya sedang menyimpan sesuatu yang tak mungkin orang lain bisa terima. Aku menyimpan banyak hal yang seringkali di luar nalar orang, yang seringkali mengagetkan orang, baik itu hal baik mau pun hal buruk.

Aku takut penolakan. Aku takut ide-ideku ditolak mentah oleh mereka yang mendengarku. Padahal ‘kan yang namanya ide itu sifatnya ‘infinity’, tapi ya aku tetap takut ditolak. Aku merasa tak aman. Aku merasa insecure.Aku menyimpan ide-ideku sampai semua tak bisa aku tahan. Tapi pada akhirnya mereka keluar semua dan, ya, seperti tai, ketika ia ditahan-tahan, besar kemungkinan ia keluar tidak pada tempatnya, tidak pada waktunya – tidak pada keadaan yang tepat. Wujudnya pun sama seperti tai yang ditahan itu. Ide-ide tersebut melebur jadi satu, bersifat destruktif bagi mereka yang ada di sekitarku. Syukurnya ada yang namanya bahasa lisan. Aku bisa seenak udelku menyiarkan tulisan ini tanpa tahu ada yang membaca ini. Internet, bagiku, adalah tempat aku mengeluarkan sampah-sampah pikiran. Siapa tahu nanti ada pemulungnya yang bisa mengolahnya jadi sesuatu yang lebih baik.

Sehingga, aku perlu komunikasi lebih. Entah kenapa aku merasa komunikasi lewat media, apa pun, seringkali nggak efektif. Ketika aku perlu ini untuk urusan kerja, komunikasi sering nggak berguna. Ketika aku komunikasi untuk urusan main-main, seringkali nyambung. Entah apa sebabnya, ya nyambung.

Karena penasaran, maka aku membedakan proses yang terjadi dalam diriku. Ketika aku melakukannya untuk urusan kerja, aku merasa aneh. Aku merasa ragu akan tutur kataku. Aku juga merasa hilang kepercayaan diri, seperti sudah tahu bahwa nantinya kata-kataku takkan jadi tutur yang berguna. Ketika aku melakukannya untuk urusan main-main, aku pun merasa aneh, tapi kaget. Kaget karena aku bisa memaklumi keanehan itu. Aku merasa lebih antusias ketika bertutur dalam suasana main-main. Semua kata terucap tanpa sepatah kata tertinggal. Perbedaannya jelas, aku merasa antusias atau ragu. Persamaannya, semua itu terjadi karena adanya proses komunikasi. Aku membayangkan bahwa aku perlu mampu untuk mengatur diriku supaya bisa antusias atau ragu pada keadaan yang aku inginkan.

Kata-kataku seringkali dangkal. Kedangkalan kata-kataku sering mengundang penolakan, padahal aku takut terhadap penolakan. Tapi ternyata aku tetap perlu komunikasi lebih sering. Melihat kontradiksi ini aku menjadi penasaran. Setelah aku renungi, rupanya aku perlu mampu untuk lebih mengatur diri antara menjadi antusias atau menjadi ragu. Aku melihat bahwa diriku memerlukan sebuah gerak juang agar bisa mengatur atau membiarkan diri diatur. Untuk bisa melakukan gerak juang itu aku perlu adanya kekuatan, kekuasaan, kapital, untuk diarahkan pada pengaturan diri. Namun sayangnya, aku belum bisa mengatur diriku sesempurna yang aku inginkan. Selain itu, kesempurnaan bukanlah milikku, melainkan hanya milik Tuhan Sendiri. Maka, sebaiknya diriku senantiasa mengingat, menerima, berpasrah, bahwa kekuasaan atas diri ini hanya ada pada Tuhan.

PESAN DARI MAD DOG